Proyek Revitalisasi Kampung Mrican merupakan salah satu program penataan kawasan kumuh menjadi permukiman asri, sehat, dan layak huni yang terletak di Padukuhan Mrican, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Proyek yang digarap melalui kolaborasi multipihak ini bahkan berhasil meraih penghargaan arsitektur internasional karena konsep penataannya yang ramah lingkungan tanpa menggusur masyarakat.
Kampung Mrican sendiri saat ini menjadi 10 Finalis Teratas di Seoul Design Award 2026. Seoul Design Award merupakan Penghargaan yang diberikan kepada desainer, organisasi, atau perusahaan yang proyek-proyeknya telah berkontribusi pada kehidupan sehari-hari yang berkelanjutan, yang bertujuan menciptakan hubungan harmonis antara manusia, masyarakat, dan lingkungan.
Dengan partisipasi dari 98 negara hingga saat ini, Seoul Design Award mempertemukan para desainer yang memiliki visi untuk mendorong perubahan sosial melalui desain. Sebanyak 32 tokoh desain terkemuka dari lebih dari 20 negara bertindak sebagai dewan juri dan memberikan masukan yang berharga. Sebagai ajang yang diakui oleh para ahli desain internasional, Seoul Design Award merupakan satu-satunya penghargaan desain publik di dunia yang didedikasikan untuk kehidupan sehari-hari yang berkelanjutan.
Awal Revitalisasi Kampung Mrican
Sebelum direvitalisasi, Kampung Mrican yang berada di bantaran Sungai Gajahwong dan Sungai Pelang dikenal sebagai kawasan padat penduduk yang kumuh dan tidak teratur. Masalah utama yang dihadapi warga meliputi: Minimnya sistem drainase dan sanitasi yang buruk, Kerentanan tinggi terhadap bahaya kebakaran karena akses jalan yang sempit, Risiko banjir tahunan akibat jarak bangunan rumah warga yang terlalu mepet dengan bibir Sungai, dan Tumpukan sampah di sepanjang bantaran sungai yang menimbulkan bau menyengat.
Transformasi fisik di kawasan seluas kurang lebih 5 hektare ini menggunakan metodologi utama bernama 3M (Mundur, Munggah, Madhep Kali).
- Mundur: Bangunan atau rumah warga digeser mundur sejauh minimal 3 meter dari bibir sungai.
- Munggah (Naik): Ketinggian bangunan ditingkatkan atau disesuaikan untuk meminimalisir risiko luapan air sungai.
- Madhep Kali (Menghadap Sungai): Orientasi depan rumah warga dibalik menjadi menghadap ke arah sungai (konsep riverfront). Dengan cara ini, sungai tidak lagi dijadikan sebagai “halaman belakang” tempat membuang limbah/sampah, melainkan sebagai beranda depan yang dijaga kebersihannya.
Alih-alih membangun satu fasilitas berskala besar, Revitalisasi Kampung Mrican mengadopsi pendekatan desain sosial yang menghubungkan berbagai ruang dan fasilitas yang dibutuhkan kehidupan sehari-hari penduduk untuk menyelesaikan masalah lokal.
Microlibrary Pringwulung dirancang untuk mengangkat bangunan di atas tiang sehingga ruang di bawahnya dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti pernikahan, acara lokal, dan parkir motor. Fasad terakota ini menggabungkan motif batik Yogyakarta, menyaring sinar matahari dan panas sekaligus memungkinkan ventilasi silang alami. Dengan menggabungkan kerajinan lokal dan pola tradisional menjadi cangkang tanah liat yang disusun secara parametrik, identitas budaya dan fungsi lingkungan diintegrasikan ke dalam satu elemen arsitektur.
Di sepanjang sungai, fitur keselamatan seperti pos pengendalian banjir dan pagar dipasang dengan interpretasi ulang pola batik yang kontemporer. Tanaman hijau dan penerangan jalan diatur bersama untuk meningkatkan keselamatan dan lingkungan pengguna, sementara teks sejarah Jawa yang membawa pesan lingkungan dan edukasi diukir di trotoar. Papan petunjuk juga mencerminkan konteks budaya lokal untuk menambah identitas visual yang konsisten pada desa. Dengan cara ini, infrastruktur tidak hanya diperlakukan sebagai perangkat fungsional, tetapi digunakan sebagai elemen yang menampilkan budaya dan lanskap lokal.
Fasilitas komunitas pertanian perkotaan juga ditingkatkan. Penduduk menanam jamur dan sayuran serta memproduksi produk eko-enzim di sini. Pada saat yang sama, membersihkan limbah desa dan memasang pusat daur ulang meningkatkan lingkungan hidup sekaligus membangun fondasi sirkulasi sumber daya.
Taman bermain memanfaatkan ruang di atas fasilitas pengolahan air limbah untuk menggabungkan budaya tradisional dan permainan. Bersama dengan ayunan, komidi putar, dan seluncuran, terdapat figur ‘Wayang’ (boneka bayangan) Gatotkaca yang sangat dicintai, sesuai dengan nama jalan. Ruang kosong di atas infrastruktur yang sudah ada ini mengubah ruang kosong menjadi ruang publik yang digunakan anak-anak dan warga, menghubungkan elemen budaya lokal dengan pengalaman bermain.
Partisipasi aktif komunitas terlibat dalam setiap fase proyek ini. Ini adalah proyek desain sosial yang menghubungkan kembali hubungan antara desa dan sungai dengan menyelesaikan berbagai masalah sehari-hari—seperti perpustakaan, taman bermain, jalur pejalan kaki, pertanian perkotaan, dan fasilitas keselamatan—melalui intervensi spasial skala kecil dan partisipasi warga.
SHAU Firma Arsitektur dibalik Revitalisasi Kampung Mrican
SHAU didirikan pada tahun 2009 di Rotterdam (Belanda) dan Munich (Jerman) sebelum memusatkan kantor utamanya di Bandung, Indonesia. Nama SHAU sendiri merupakan akronim dari para pendiri utamanya: Daliana Suryawinata, S.T., M.Arch., IAI dan Florian Heinzelmann, Dipl.-Ing., M.Arch., SBA.
Dalam menata Kampung Mrican, SHAU tidak menerapkan metode penataan top-down konvensional yang cenderung menggusur permukiman. Mereka menggunakan pendekatan Urban Acupuncture, yaitu melakukan intervensi desain berskala mikro yang sensitif terhadap konteks lokal demi memberikan dampak positif yang luas bagi seluruh kawasan.
- Preservasi Identitas: Desain dibuat dengan mempertahankan struktur kain kota (fabric) asli permukiman agar ikatan sosial warga yang sudah puluhan tahun terbentuk tidak hilang.
- Desain Partisipatif: SHAU melibatkan warga Kampung Mrican secara aktif melalui analisis sosial dan diskusi kelompok sebelum menentukan titik-titik fasilitas publik yang akan dibangun
Sebelum mendapatkan penghargaan sebagai Top Finalis di Seoul Design Award untuk proyek Kampung Mrican, SHAU telah lama diakui sebagai salah satu firma arsitektur paling progresif di Asia Tenggara. Proyek perpustakaan mikro mereka sebelumnya, seperti Microlibrary Bima di Bandung dan Microlibrary Warak Kayu di Semarang, juga telah menyabet berbagai penghargaan bergengsi seperti Architizer A+ Awards dan Aga Khan Award for Architecture.
Dukung Kampung Mrican di Seoul Design Award 2026
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengapresiasi keberhasilan penataan terpadu Kampung Mrican, Condongcatur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang bertransformasi dari kawasan padat dan kumuh menjadi lingkungan yang tertata rapi, sehat, dan nyaman. Menko AHY menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas permukiman.
“Senang sekali akhirnya saya bisa meninjau langsung hasil penataan kawasan di Desa Mrican, Sleman. Wilayah yang dulunya permukiman padat dan kumuh, kini telah bertransformasi menjadi kawasan yang rapi, sehat, dan asri,” ujar Menko AHY saat meninjau langsung kawasan Mrican.
Setelah menjadi salah satu model percontohan Revitalisasi Kampung di Indonesia, mari berikan dukungan kita pada proyek Kampung Mrican di ajang Seoul Design Award 2026.
Voting Global untuk umum dibuka hingga tanggal 7 Oktober 2026. Ayo Dukung Kampung Mrican sekarang..

