Lanskap arsitektur Indonesia kembali menorehkan tinta emas di panggung internasional. Proyek regenerasi perkotaan “Kampung Mrican Phase 1” yang digarap oleh biro arsitek SHAU berhasil meraih predikat tertinggi “Best of the Best” dalam ajang Seoul Design Award 2026.
Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Wakil Kepala Perwakilan RI (DCM) KBRI Seoul, Ali Andika Wardhana, bersama Walikota Seoul, Oh Se-hoon, di Dongdaemun Design Plaza (DDP), Korea Selatan. Bersaing ketat dengan 1.204 karya dari 91 negara, proyek asal Padukuhan Mrican, Sleman, D.I. Yogyakarta ini berhasil menembus jajaran 10 besar dunia sekaligus membawa pulang piala kemenangan utama.
Bagaimana sebuah kawasan yang dulunya padat, kumuh, dan rawan banjir ini bisa bertransformasi menjadi model percontohan social architecture tingkat global?
Filosofi Kampung Mrican “Mundur, Munggah, Madhep Kali”
Keberhasilan Kampung Mrican tidak lepas dari pendekatan radikal yang humanis: mengubah hubungan antara permukiman dan sungai. Selama puluhan tahun, rumah-rumah di bantaran Sungai Gajahwong membelakangi air, menjadikannya area belakang yang terisolasi dan dipenuhi tumpukan sampah.
Melalui gerakan sinergi partisipatif bersama warga dan kementerian terkait, dirumuskanlah prinsip “Mundur, Munggah, Madhep Kali” (Mundur, Naik, Menghadap Sungai).
- Mundur: Warga secara sukarela menggeser batas rumah mereka ke belakang untuk menyisakan ruang bagi jalan inspeksi dan ruang terbuka hijau.
- Munggah (Naik): Struktur bangunan diubah secara vertikal guna memaksimalkan ruang di lahan yang sangat terbatas.
- Madhep Kali: Menjadikan sungai sebagai beranda depan desa, menciptakan koridor publik yang asri, bersih, dan ramah pejalan kaki.
Akupunktur Urban: Interaksi Ruang Berskala Mikro
Alih-alih meruntuhkan perkampungan dan membangun fasilitas berskala makro yang megah, SHAU Architects menerapkan strategi acupunctural interventions. Mereka menaruh ruang-ruang publik berukuran mikro di titik-titik krusial yang berdampak langsung pada keseharian masyarakat.
Di jantung kampung ini berdiri Microlibrary Pringwulung, sebuah perpustakaan ikonik berstruktur panggung. Desain kolongnya yang terbuka sengaja menyisakan ruang multifungsi untuk tempat berkumpul warga, parkir motor, hingga area pernikahan adat. Yang menarik, fasad bangunan perpustakaan ini menggunakan material terakota local yang disusun membentuk anyaman motif batik Yogyakarta. Desain ini tidak sekadar estetika, melainkan juga berfungsi sebagai penyaring panas matahari dan jalur ventilasi silang alami.
Selain itu, lahan mati di atas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) disulap menjadi taman bermain anak bertema figur tradisional Gatotkaca. Ada pula ruang pertanian perkotaan (urban farming) pembudidayaan jamur yang dikelola oleh komunitas perempuan setempat.
Cetak Biru Penghapusan Wajah Kumuh Nasional
Apresiasi tinggi datang dari berbagai pihak, termasuk Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang meninjau langsung transformasi terpadu seluas total 5 hektare ini. Kampung Mrican kini terbukti menjadi contoh nyata implementasi gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Kemenangan di Seoul Design Award 2026 menjadi pembuktian bahwa arsitektur terbaik bukan tentang seberapa megah materialnya, melainkan seberapa besar kegunaan sosial dan dampak emosional yang mampu dihadirkan bagi komunitas di dalamnya. Kampung Mrican kini bukan lagi sekadar sudut bantaran sungai di Sleman, melainkan inspirasi tata kota global yang lahir dari gotong royong anak bangsa.

