7 Karya Seni Bambu di Milan Design Week 2025

Milan Design Week

Dari perhelatan Milan Design Week 2025, kita dapat melihat beberapa karya dari beberapa praktisi desain dan arsitek yang berkolaborasi dengan beberapa merek ternama. Event ini sendiri telah dilaksanakan pada tanggal 7 – 13 April 2025 di kota Milan, Italia. Salah satu merek yang ikut berpastisipasi adalah Gucci, merek ini telah menjadi salah satu merek ternama di dunia dengan berbagai koleksi produk-produknya.

Pada event Milan Design Week 2025, Gucci berkolaborasi dengan beberapa desainer yang menghadirkan desain-desain unik. Gucci menghadirkan tema Bamboo Encounters yang didesain dan dikurasi oleh Studio 2050+ dengan pendirinya Ippolito Pestellini Laparelli.

Tema Bamboo Encounters sendiri diambil untuk menghadirkan bambu melalui lensa desain kontemporer. Project ini membuat para desainer berinteraksi dengan bambu, karena saat ini tidak ada satupun di antara mereka yang punya hubungan nyata dengan bambu.

“Kami menyebut proyek ini pertemuan karena pertemuan-pertemuan antara bambu dan praktisi yang tidak terkait secara jelas dengannya merupakan pertemuan-pertemuan yang mengejutkan, pertemuan-pertemuan yang mengejutkan yang diharapkan akan menghasilkan hasil-hasil yang tidak terduga” jelas Pestellini.   

Di Italia sendiri sejarah panjang bambu dimulai tahun 1940an ketika bahan kulit belum tersedia. Bambu menjadi salah satu bahan alternatif untuk beberapa komponen penting dalam industri fashion yang berkembang saat itu. Salah satu produk fashion yang cukup terkenal di tahun 1947 adalah sebuah tas dengan pegangan dari bambu sehingga dikenal dengan Tas Bambu.

Milan Design Week
foto : istimewa – GUCCI

Arsitek & Seniman di Milan Design Week

Kembali ke ajang Milan Desain Week 2025, di Gucci Bamboo Encounters salah satu desainer menghadirkan konsep paravento dalam bahasa Italia yang artinya menghentikan angin.

Terinspirasi dari bentuk bambu, seniman Prancis Nathalie Du Pasquier menata ulang material tersebut dalam bentuk partisi lipat. Du Pasquier mendesain panel ringan untuk membingkai cetakan sutra. Dengan menghadirkan perpaduan alami, karya tersebut mengontraskan keliaran bambu dengan sentuhan kain yang halus.

Karya lainnya yang mengeksplorasi Bambu, Seniman Swedia-Chili Anton Alvarez memberi penghormatan kepada bentuk dan tinggi bambu melalui karya seni yang diberi judul, ‘1802251226.’ Dipandu oleh bentuk-bentuk organik, karya seni tersebut menyeimbangkan pertumbuhan tanaman dengan pergerakan air, membangkitkan unsur-unsur alami yang memberikan stabilitas dan kehidupan tetapi juga menentang batasan struktural, keduanya dapat diandalkan namun liar.

Milan Design Week
foto : istimewa – GUCCI

Struktur penyangga bambu juga menjadi salah satu inspirasi bagi desainer Austria Laurids Gallée. Desainer ini menafsirkan ulang material bambu tersebut dalam bentuk ‘Scaffolding’ atau yang lebih kita kenal struktur penyangga. Di sini, resin mencerminkan keanggunan bambu yang tangguh, yang kontras dengan bentuknya yang mengesankan dengan ruang negatif yang lebih lembut. Dihasilkan dalam warna biru tua, karya tersebut membangkitkan keheningan yang lembut, mengundang interpretasi. “Saya baru saja memulai dengan ketertarikan pribadi yang saya miliki terhadap bambu. Dan bagi saya itu lebih pada citra dan bagaimana ia menggambarkan kekuatan. Dan kami sering menggunakan ini secara kelipatan karena bambu hampir seperti dibuat dengan mesin” ungkap Gallée.

Gucci Bamboo Encounters 2025 juga menghadirkan Desainer produk dan tekstil Bertjan Pot dan fotografer still life Liesbeth Abbenes dan Maurice Scheltens dari Kite Club mempersembahkan ‘Thank you, Bamboo,’ atau ‘Terima Kasih Bambu’ melalui serangkaian layang-layang yang terbuat dari nilon ripstop, plastik, dan bambu. Dengan menggunakan kombinasi bahan-bahan ini, karya tersebut menunjukkan bahwa siapa pun dapat merasakan kegembiraan menerbangkan layang-layang.

Dari Asia bagian Timur, Sisan Lee, seorang desainer dan seniman yang berdomisili di Seoul, memadukan unsur klasik dan kontemporer dalam ‘Engraved.’ Melalui teknik relief dan ukiran, dimana jejak bambu diukir pada aluminium, yang menghubungkan seni modern dengan estetika tradisional Korea dengan menekankan ‘pengurangan’, yang terlihat pada keindahan porselen dan lukisan Joseon yang terkendali.

‘Hybrid Exhalations’ adalah salah satu karya yang hadir di Gucci Bamboo Encounters. Karya seni dari Arsitek, seniman, dan peneliti dari Palestina Dima Srouji memadukan proses metodologis kerajinan bambu dengan kaca. Desain keranjang bambu yang diambil dari bahan alam ditambahan aksen dari kaca tiup tangan. Srouji memadukan yang lambat dengan yang cepat, yang rumit dengan yang rapuh.

Karya dari The Back Studio, yang menampilkan duo Eugenio Rossi dan Yaazd Contractor, menerangi material dalam ‘rangkaian bambu n.1.’ Duo ini membandingkan fleksibilitas bambu dengan presisi kaca katode dingin dan perangkat keras berteknologi tinggi, memperkenalkan ketegangan dinamis antara tradisi dan modernitas.

Post Comment